Posts Tagged ‘Bersyukur’

h1

oRang MisKin yG kaYa (Bai FanG Li)

Januari 7, 2011

Jika Oprah Winfrey menyumbang ratusan dan ribuan dolar, tentu kita kagum namun tidak terkejut.

Atau bila Bill Gates juga mendermakan uangnya jutaan dolar, kita juga barangkali menganggap hal hebat yang biasa saja.

Tapi bila seseorang yang miskin yang menyumbang dalam kekurangannya?

…….. maka ia barangkali penghuni surga yang diutus ke dunia ….

yang mengajarkan kita untuk bersyukur dan selalu berbagi

Ini cerita mengenai Bai Fang Li yang lebih lengkap…….Thanks

Namanya BAI FANG LI. Pekerjaannya adalah seorang tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskankan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja
pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya.

Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Mulai jam enam pagi setelah melakukan rutinitasnya
untuk bersekutu dengan Tuhan. Dia melalang dijalanan, di atas becaknya untuk mengantar para pelanggannya. Dan ia akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam.

Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak
orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.

Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak.

Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil dimana ia biasa merebahkan tubuhnya beristirahat, diruang itu juga ia menerima tamu yang butuh bantuannya, diruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa baju tua miliknya dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal. Ada sebuah piring seng comel yang mungkin diambilnya dari tempat sampah dimana biasa ia makan, ada sebuah tempat minum dari kaleng. Dipojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah menjelang.

Bai Fang Li tinggal sendirian digubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia seorang pendatang. Tak ada yang tahu apakah ia mempunyai sanak saudara sedarah. Tapi nampaknya ia tak pernah merasa sendirian, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong.Tangannya sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan.

Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya
yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek. Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin. Yayasan yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.

Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat dipundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar dimukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.

Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ketempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong
roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu kemulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga.

Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana.
“Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya….” jawab anak itu.
“Orang tuamu dimana…?” tanya Bai Fang Li.
“Saya tidak tahu…., ayah ibu saya pemulung…. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil…” sahut anak itu.

Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping.

Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan.

Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itu Bai Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak.

Sejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam delapan malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa
gubuknya dan pembeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.

Ia merasa sangat bahagia sekali melakukan semua itu, ditengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat
pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Mhmmm… tapi masih cukup bagus… gumannya senang.

Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, ditengah badai salju turun yang membekukan tubuhnya atau dalam panas matahari yang sangat menyengat membakar tubuh
kurusnya.

“Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini…,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau
berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu. Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua.

Bai Fang Li berkata “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan……” katanya dengan sendu.
Semua guru di sekolah itu menangis……..

Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun, ia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, dia telah menyumbangkan disepanjang hidupnya uang sebesar RMB 350.000 (kurs 1300, setara 455 juta rupiah, jika tidak salah) yang dia
berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin.

Foto terakhir yang orang punya mengenai dirinya adalah sebuah foto dirinya yang bertuliskan ” Sebuah Cinta yang istimewa untuk seseorang yang luar biasa”.

Bila SESEORANG yang miskin menyumbang dari kekurangannya, maka ia adalah salah satu PENGHUNI SURGA yang diutus ke dunia, yang mengajarkan kita untuk selalu BERSYUKUR dan selalu BERBAGI kepada sesama.

http://nextechlog.blogspot.com/

Iklan
h1

BerSyuKuR TanPa sYaRat

Januari 6, 2011

 

(Sebelumnya mohon maaf, saya bukan sok-sok’an menasehati, menggurui, sok alim atau apapunlah, saya hanya mencoba mencatat apa yg harus saya lakukan. Agar saya selalu ingat apa yg harus saya lakukan sepanjang sisa hidup saya. Namun saya bersyukur sekali bila ada yg juga mendapat manfaat dari tulisan saya ini)

 

Bersyukur.

Siapa sih yang nggak pernah bersyukur? Saya pikir hampir setiap orang pernah bersyukur. Bahkan kata-kata atau ucapan :”Saya selalu bersyukur kok”, sangat sering kita dengar. Kita selalu bersyukur terhadap rezeki yang kita terima, kita selalu bersyukur terhadap keadaan yang membahagiakan kita, kita selalu bersyukur kala merasakan udara yang menyejukkan, kala memandangi pemandangan yang menakjubkan, kita selalu bersyukur memiliki keluarga dan teman yang kita sayangi.

 

Intinya kita selalu bersyukur terhadap segala hal baik yang kita terima.

 

Pertanyaannya, apakah iya? Apakah iya, kita hanya bersyukur terhadap hal-hal baik saja?

Kalau jawabannya iya, berarti kita tidak pernah, atau katakanlah jarang bersyukur terhadap hal yang tidak baik yang menimpa kita.

Pernahkah kita bersyukur ketika kita sakit, bersyukur ketika kita terjatuh, bersyukur ketika kita merasa terkhianati?

Saya pikir sebagian besar dari kita, ketika mengalami hal-hal yang tidak kita senangi, adalah mengeluh, mengutuk, mencaci maki, kesal, dan sebagainya.

Maaf kalau saya salah.

 

Melalui tulisan ini, saya hanya mencoba mengingatkan diri saya pribadi, syukur-syukur bisa bermanfaat juga buat siapa saja.

 

SAYA HANYA INGIN BELAJAR BERSYUKUR TANPA SYARAT.

 

Bersyukur dengan apapun kejadian yang kita hadapi, bersyukur terhadap apapun yang kita terima.

 

 

Saya mencoba membuat ilustrasi sebagai berikut.

 

Anggaplah saya seorang pekerja lepas di bidang kreatif, ketika sedang banyak order: “Gila, kerjaan gw banyak banget, kapan kelarnya nih…. Begadang lagi nih gw” atau ketika sepi order: “Sialan, kerjaan kok sepi banget ya, gimana gw bisa kaya….”

 

Serba salah ya, banyak order ngeluh, sepi order ngeluh, seandainya kita bisa melihat dari sisi positif, tentu kita akan bersyukur.

Saat banyak order: “Alhamdulillah, Puji Tuhan, Allah sedang sayang sama gw nih, gw dikasi banyak order, biar gw bisa menuhin apa yg gw mau. Yah berkorban waktu dan tenaga dikit lah, toh Allah gak akan beri beban yang melebihi kemampuan gw.”

Atau ketika sepi order: “Alhamdulillah, Puji Tuhan, Allah sedang sayang sama gw nih, gw dikasi banyak waktu, biar gw bisa istirahat, bisa gaul ama keluarga dan temen-temen gw. Soalnya kalo ntar udah mulai banyak order, waktu gw kesita banyak, kalo soal rezeki mah, Allah Maha Pemurah kan, gak mungkinlah ngebiarin gw sengsara.”

 

 

Ok deh, itukan kalo kita punya usaha sendiri, enak kita bisa ngatur waktu semaunya…

lah kalo kerja kantoran, cuma jadi karyawan biasa, berangkat pagi aja udah ngeselin berebut naik bis, macet, udah itu yang duduk disamping nenek-nenek tua yg bawelnya gak ketulungan, sampe kantor telat diomelin bos, padahal gaji kecil, udah itu bos ngasi kerjaannya ke kita semua, halah…. Capee deeeh….

 

Hmmm….. seandainya saya berada disituasi tersebut, saya akan tetap mencoba belajar bersyukur…

 

““Alhamdulillah, Puji Tuhan, Allah masih sayang sama saya, saya masih dikasi fisik yang sehat, jadi saya masih kuat memacu kendaraan saya. Gimana yang badannya loyo ya, kasian juga kan?”

 

“Alhamdulillah, Puji Tuhan, Allah memang sayang sama saya, jalanan macet, jadi masih ada kesempatan untuk istirahat tambahan. Jadi sampai kantor lebih segar.”

 

“Alhamdulillah, Puji Tuhan, Allah benar-benar sayang sama saya, diberi contoh hidup, ada nenek-nenek di sebelah yang udah setua ini masih sibuk berangkat pagi dan berdesakan. Saya harus lebih giat nih berusaha agar saya tua nanti bisa jauh lebih enak dari nenek ini.”

 

“Alhamdulillah, Puji Tuhan, Allah memang benar-benar sayang sama saya, saya dikasi bos yang peduli sama saya. Telat diomelin, coba kalo bos diam-diam aja, tau-tau ngasi surat peringatan, repot kan?”

 

“Alhamdulillah, Puji Tuhan, Allah luar biasa sayang sama saya, walaupun gaji gak gede, tapi sampai hari ini masih kerja dan terima gaji. Banyak orang nganggur, gak tau deh kalo saya juga nganggur….”

 

“Alhamdulillah, Puji Tuhan, Allah memang benar-benar sayang banget sama saya, saya masih dipercaya oleh boss, dikasih pekerjaan banyak.”

 

 

Hahha…. Ngomong sih enak ya…

Tapi gimana kalo masalahnya perasaan? Nah loh…

Gimana kalo kita sering berantem sama temen, dikhianati sama pasangan..?

“Alhamdulillah, Puji Tuhan, Allah sayang sama saya, saya dihadapkan dengan konflik, agar saya lebih mengerti mana yang baik, mana yang buruk, mana yang benar, mana yang salah.”

 

Ok..ok…. Nah kalo kita sakit gimana? Udah badan gak enak banget, gak bisa ngapa-ngapain lagi.

Bersyukurlah…

“Alhamdulillah, Puji Tuhan, Allah sayang sama saya, saya diberi penyakit agar saya bisa istirahat total. “

“Alhamdulillah, Puji Tuhan, Allah sayang sama saya, saya diberi penyakit, saya jadi sadar ternyata saya punya banyak teman yg benar-benar perhatian terhadap saya, ada yang datang besuk, ada yang nelpon menanyakan kondisi, ada yang menghibur lewat fesbuk. “

“Alhamdulillah, Puji Tuhan, Allah sayang sama saya, saya diberi penyakit untuk mengurangi dosa-dosa saya.“

 

 

Hmmm….. memang tidak semudah yang ditulis, tidak semudah yang dikatakan, tidak semudah yang dibayangkan…. Tapi bukankan kalau ada kemauan, pasti bisa?

Dan ini merupakan suatu kebiasaan yang bisa dilatih bukan? Kalau sudah terbiasa, tentu tidak akan terasa sulit.

 

 

“Alhamdulillah, Puji Tuhan, Allah luar biasa sayangnya sama saya, seorang Hendra Yoga Subakti, yang masih diberi sahabat-sahabat yang mau membaca tulisan saya sampai selesai.”

Terima Kasih.

h1

PoLa CinTa

Januari 4, 2011

Setiap tahun di hari Natal, Service Club kami mengajak anak-anak dari keluarga yang kurang mampu di kota kami untuk berjalan-jalan dan berbelanja seharian.

Pada hari itu, aku mengajak Timmy dan Billy yang ayahnya baru saja berhenti bekerja. Setelah memberi mereka uang saku masing-masing $4.00, kami memulai perjalanan ini.

Di setiap toko yang kami lalui, aku memberikan saranku, tapi mereka selalu dengan tegas menggelengkan kepalanya, “Tidak”.
Akhirnya aku bertanya, “Kemana sebaiknya kita pergi?”

“Mari kita pergi ke toko sepatu, Pak”, jawab Timmy. “Kami mencari sepasang sepatu untuk ayah, supaya dia dapat kembali bekerja”.
Di toko sepatu, pegawainya menanyakan apa yang anak-anak itu inginkan.

Sambil mengeluarkan secarik kertas coklat, mereka berkata, “Kami menginginkan sepatu kerja yang cocok ukurannya dengan kaki ini”.
Billy menjelaskan bahwa itu adalah pola kaki ayah mereka. Mereka menggambarnya kala ayah mereka tertidur di kursi.

Pegawai toko itu memegang kertas tersebut dan mengambil pengukur, seraya beranjak ke dalam. Tak lama kemudian ia kembali dengan sebuah kotak terbuka.
“Apakah yang ini cocok?” dia bertanya.
Timmy dan Billy memegang sepatu itu dengan antusias sekali.
“Berapa harganya?” tanya Billy.
Timmy melihat label harga pada kotak tersebut.

“Harganya $16.95″, katanya dengan terkejut. “Kita hanya punya $8.00″.

Aku memandang pegawai itu dan sambil berdehem dia berkata, “Itu harga normal, tapi khusus hari ini saja sedang ada obral. Harganya hanya $3.98″

Kemudian dengan gembira membawa sepatu di tangan, kedua bocah itu membelikan hadiah untuk ibu dan kedua saudara perempuan mereka. Mereka tidak memikirkan sama sekali keinginan mereka.

Sehari setelah Natal, ayah kedua anak laki-laki itu menemuiku di jalan. Kakinya mengenakan sepatu baru. Tampak rasa syukur dan terimakasih di matanya.

“Saya sangat berterima kasih pada Tuhan untuk orang-orang yang peduli”, katanya.

“Dan saya berterima kasih pada Tuhan untuk kedua putra anda,” jawabku. “Mereka telah mengajariku lebih banyak tentang Natal dalam satu hari dibanding yang telah aku pelajari sepanjang hidupku.”