Archive for the ‘CeriTa biJak’ Category

h1

MeNgasaH keMamPuan DiRi – AW

Januari 11, 2011

Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, maka calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.
Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.

 

Hari pertama bekerja, ia berhasil merobohkan delapan batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus. “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu selama ini. Teruskan bekerja seperti itu.”

Karena sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi. Tetapi dia hanya berhasil merobohkan tujuh batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tapi hasilnya tetap tidak memuaskan, bahkan mengecewakan. Semakin bertambah hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan.

“Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku. Bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon, merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap kepada sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?”

“Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu! Saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga,” kata si penebang.

“Nah, di sinilah masalahnya. Ingat hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil maksimal. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama, tetapi tidak diasah. Kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bisa bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal. Sekarang, mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukkan kepala dan mengucap terima kasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.

Pembaca yang berbahagia,

Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, dan sibuk terus, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak, “mengasah” dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan, dan spiritual.

Seperti pepatah Mandarin yang mengatakan istirahat bukan berarti berhenti, tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi. Tentunya istirahat kita seharusnya menjadi istirahat yang berkualitas dan bukan untuk bermalas-malasan. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan dinamis!

Salam sukses, luar biasa!

Iklan
h1

GoLdeN woRds 49

Januari 11, 2011
Banyak orang mempunyai banyak pengetahuan tapi belum tentu ia kaya dan sukses.
Karena biasanya mereka tidak SEGERA MEMPRAKTEKKAN dan mengembangkan kecepatan belajarnya
Jangan lah berkecil hati untuk memulai sesuatu,lakukan saja ………
tidak usah khawatir mengenai kualitas yang akan Anda capai.
Karena melakukan sesuatu dengan tidak sempurna tetap lebih baik daripada tidak melakukan apapun dengan sempurna
h1

GoLden WoRds 47

Januari 11, 2011

Anda adalah kekasih Tuhan.
Dan tidak ada yang tidak akan dilakukan Tuhan untuk kekasihnya.
Maka, Inginkanlah yang besar, mintalah yang besar, pantaskanlah diri menjadi orang besar,
dan bersyukurlah sebagai orang yang besar.
Siapapun yang mengalirkan kebaikan kepada orang lain akan menerima kebaikan juga – baik dari sumber yang jelas atau dari sudut-sudut yang tidak diketahuinya.

h1

GoLden WordS 44

Januari 11, 2011

Seorang yang berhati baik, akan membaikkan tindakannya agar dia bisa meneladankan yang baik, menganjurkan yang baik, dan kemudian mengharuskan yang baik.
Maka jika kita memilih seseorang sebagai pemimpin kita, pastikanlah Anda memilih pribadi yang hatinya baik.
Tugas kita adalah menjadikan waktu antara kelahiran dan akhir kehidupan kita, sebagai keberadaan yang sejahtera, yang berbahagia, dan yang secemerlang mungkin.
Janganlah kekhawatiran kita mengenai masa depan, menjadikan kita pribadi yang sikap, pikiran, dan tindakannya justru akan mewujudkan yang kita khawatirkan.
Hari ini, bersungguh-sungguhlah untuk menghadiahkan diri Anda sebagai pengindah kehidupan dari keluarga Anda yang tercinta.

 

h1

Ga Enak

Januari 10, 2011

* sebuah catatan terima kasih

terima kasih untuk hal-hal yang ‘gak enak’, Tuhan…

karena mereka malah membuatku semakin bersyukur

atas hal kecil dan sederhana yang mungkin terlupa…

terima kasih untuk kejadian yang menyedihkan, Tuhan…

karena oleh mereka aku jadi makin dekat pada-Mu

dan mampu menghargai hal-hal yang membahagiakan…

terima kasih untuk setiap kegagalan, Tuhan…

karena dari mereka aku belajar menghargai kesuksesan

yang Kauizinkan mampir di hidupku…

terima kasih untuk setiap kehilangan, Tuhan…

karena aku semakin sadar bahwa hidup ini sementara

yang abadi hanya diri-Mu

terima kasih untuk setiap kemalangan, Tuhan…

karena dari situlah aku belajar berdiri tegar

tidak selalu mudah namun bisa terjadi dengan bimbingan-Mu.

terima kasih untuk setiap kekuatiran, Tuhan….

karena dengan demikian, aku datang dan membawa mereka pada-Mu

sambil menyerahkan kehidupanku seutuhnya ke dalam tangan-Mu

terima kasih untuk setiap kesukaran dan permasalahan, Tuhan…

karena dengan adanya mereka aku belajar berusaha

mencari solusi kreatif sekaligus berserah pada-Mu…

terima kasih untuk semua yang ‘gak enak’ itu, Tuhan…

karena hidup bukanlah melulu kemapanan ataupun kenyamanan…

namun juga proses pembelajaran…

terima kasih, Tuhan untuk itu semua…

karena kutahu, Kaubertujuan agar aku terus naik kelas

dalam sekolah kehidupan bersama-Mu.

-Fonny Jodikin-

* tautannya ada di: http://fjodikin.blogspot.com/2010/11/gak-enak.html

* copas, forward, share? Harap sertakan sumbernya. Trims.

h1

KaLa MenJenguK si SakiT

Januari 10, 2011

Oleh: Sonny Wibisono *

 

“It is health that is real wealth and not pieces of gold and silver.”– Mahatma Gandhi, politikus asal India, 1869-1948

 

BENAR juga apa yang dikatakan Kak Rhoma, ‘begadang jangan begadang, kalau tiada artinya.’ Inilah yang dialami Agus. Tubuhnya terbaring lemah. Sudah tiga hari Agus harus tidur di rumah sakit. Penyakit tipus merontokkannya. Ini adalah buah dari getolnya bekerja. Begadang bekerja membuatnya sering pulang hingga larut malam. Sebelumnya, dia bilang sudah biasa dengan ritme bekerja seperti itu. Keluarga pun tak mencemaskan. Teman kantor apalagi.

 

Tapi kekuatan tubuh manusia ada batasnya. Agus tumbang juga akhirnya. Saat diperiksa dokter, ia mengira hanya digasak gejala flu. Namun karena tak kunjung sembuh, pada kunjungan yang kedua, dokter menyarankan untuk cek darah. Nyatalah, dia terkena tipus. Tak ada pilihan yang lebih baik bagi Agus, kecuali mondok di rumah sakit.

 

Ketika menjenguknya, Agus masih dapat membersitkan senyuman. Ia tetap ceria, bahkan masih dapat bersenda gurau dengan teman-temannya yang menjenguknya. Ia sangat berterimakasih atas kedatangan teman-temannya. Hal itu katanya, memberikan kekuatan tersendiri baginya.

 

Betul. Mengunjungi orang sakit merupakan perbuatan yang sungguh sangat dianjurkan. Karena di dalamnya terdapat keutamaan yang agung. Menjenguk orang yang sedang sakit, merupakan bagian dari proses penyembuhan itu sendiri. Karena memang, pengobatan tidak seluruhnya bersifat materiil.

 

Menjenguk orang yang sakit, ternyata juga menguntungkan secara kesehatan bagi yang menjenguknya. Tak percaya? Simaklah studi berikut ini. Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Psychological Science, akhir April 2010 lalu, seseorang yang melihat orang lain sakit akan meningkatkan sistem kekebalan tubuhnya. Jadi malah makin menyehatkan si penjenguk. Namun tentu saja, kita tak hanya sekedar datang dan pergi dalam menjenguk si sakit. Walaupun tak ada larangan bagi siapa saja untuk dapat menjenguk orang sakit, tak ada salahnya bagi si penjenguk untuk memperhatikan hal-hal berikut.

 

Sebaiknya tanyakan terlebih dahulu kondisi si sakit pada keluarganya. Bagaimanapun juga, keluargalah yang lebih tahu kondisi si sakit. Hal ini juga untuk mengetahui hal-hal apa saja yang kiranya patut diketahui oleh penjenguknya nanti ketika akan menjenguk si sakit. Misalnya saja, si sakit yang mengalami kecelakaan, akan menjadi trauma ketika peristiwa kecelakan yang menimpa dirinya diungkit kembali. Saat menjenguk tak perlu membicarakan hal tersebut. Tak ada salahnya pula bila kita mengingatkan kepada keluarganya untuk sungguh-sungguh memperhatikan dan merawat si sakit.

 

Setelah datang menemui si sakit, tanyakanlah bagaimana kondisi kesehatannya. Selain mendapat informasi tambahan dan mengetahui kondisi yang sesungguhnya dari si sakit, juga dapat meringankan si sakit karena merasa ada yang memperhatikan kondisinya. Bila perlu, bawakanlah buah tangan. Tentunya, dengan memperhatikan kondisi kesehatan si sakit dan konsultasikanlah dengan sang dokter mengenai makanan yang dapat dikonsumsi si sakit.

 

Selain menanyakan kondisi kesehatannya, si sakit sebaiknya dihibur. Tak hanya dihibur, sebaiknya pula kita menceritakan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan si sakit. Jangan mengungkit-ungkit hal-hal yang tak mengenakkan si sakit. Dengan menghiburnya dan menceritakan kebaikan-kebaikannya, akan membuat si sakit merasa tenang dan dapat mempercepat proses penyembuhannya.

 

Dan tentu saja, ketika kita menjenguknya, tak lupa kita mendoakan kesembuhan bagi si sakit. Keyakinan manapun tentu mengajarkan agar kita mendoakan orang yang sedang sakit agar segera lekas sembuh dan dapat beraktifitas kembali seperti sedia kala.

 

Bagi yang menjenguknya, ada pelajaran berharga yang bisa dipetik. Hal itu mengingatkan kepada mereka bahwa begitu mahalnya apa yang dinamakan kesehatan. Kesehatan baru akan terasa tak ternilai ketika sedang jatuh sakit. Tentu saja diharapkan agar mereka, para penjenguk si sakit, tersadar dan terdorong untuk lebih memperhatikan gaya hidup dan perilaku mereka. Di kala sehat, hiduplah secara teratur dan seimbang. Seperti, makan secara teratur dan yang menyehatkan, berolahraga, menjauhi begadang dan aktivitas yang tak perlu. Dan juga yang penting, jangan tinggalkan ibadah. Jangan hanya ketika sakit, kita baru giat beribadah dan ingat akan Tuhan. Betul?

 

 

*) Sonny Wibisono, penulis buku ‘Message of Monday’, PT Elex Media Komputindo,  2009

 

NB: Silakan share dengan tetap menyertakan nama penulisnya. Terima kasih

h1

KaRtu KreDiT

Januari 10, 2011

Manusia terlalu percaya akan dirinya bahwa dia akan dapat rasional dalam mengambil keputusan. Padahal kenyataannya tidak. Sebagai contoh, sering saya melihat teman yang pemakaian kartu kreditnya berlebihan. Kalau ditanya, mereka sudah mengontrolnya dan merasa memakai sedikit saja. Padahal kenyataannya tagihannya jauh melebihi dari dugaannya.

 

Mengapa ? Karena menggunakan kartu kredit tidak terasa beda membayar 70.000 atau 700.000 atau 2.700.000. Rasanya sama. Tinggal tanda tangan saja. Makan 40.000 tanda tangan, selesai. Beli barang 3.000.000 tanda tangan, selesai juga. Rasa meneken tanda tangan ini sama. Semua pakai kertas kecil yang tidak ada bedanya antara 70.000 atau 700.000.

 

Anda tidak merasa berat untuk mengeluarkan uang. Bandingkan kalau anda membayar dengan uang seperti biasanya. Beli 40.000 anda akan mengeluarkan 4 lembar 10.000-an. Bahkan kalau membayar 2.000.000, harus 2 tumpuk uang sejutaan. Ini akan terasa beda bayarnya karena kelihatan banyaknya lembar uang yang dikeluarkan.

 

Manusia terlalu mempercayai otak kanannya. “Oh ya, saya ingat kok. Kemarin belanja ini 1 juta. Lalu yang itu 1 juta,” kata dia. Tapi dia tidak merasa lagi berapa total keseluruhannya. Karena itu kalau anda lihat kenapa semua bank mengobral kartu kredit dan pemakaiannya. Anda saksikan iklan-iklan yang berisi pembelian dengan bunga 0%, diskon ini-itu atau buy 1 get 2 dan sebagainya. Juga ada iming-iming gratis iuran tahunan pertama, padahal orang lupa memperhatikan masa kartu kreditnya. Ingatnya ketika sudah ditagih. Maka mereka menunggu setahun lagi untuk membatalkannya. Tahun depannya juga ingat setelah telat sebulan dan diteruskan sampai terus-menerus. Sehingga banyak orang punya 5 kartu kredit serta selalu lupa membatalkan ketika tagihan iuran tahunannya sudah berjalan. Para bank yang mengeluarkan kartu kredit ini tahu bahwa anda sering lupa. Manusia terlalu percaya akan ingatannya.

 

Contoh lain, keanggotan fitness centre sebuah hotel berbintang untuk berolah raga. 1 tahun bayar 3 juta atau bulanan bayar 250 ribu. Kalau kasus seperti ini, sebaiknya anda bayar bulanan, meski harus 300 ribu sekalipun. Mengapa ? Kalau bayar sebulan sekali, anda menjadi sadar telah membayar sehingga harus berolah raga. Tapi kalau bayar tahunan, anda baru ingat ketika baru membayar atau adanya tagihan tahun depan. Sehingga di tengah-tengah tahun, anda tidak memanfaatkan fasilitas ini untuk berolah raga.

 

‘Power of context’, atau “kekuatan keadaan”, membuat kita tidak logis dan rasional, karena kita terpengaruh oleh keadaan sekeliling kita dalam mengambil keputusan . Dunia bisnis sering memanfaatkan ini untuk membuat anda lebih banyak membeli barang, andapun harus lebih jernih melihat ini dan mengantisipasi keadaan.

 

 

* Tanadi Santoso

 

 

NB: Silakan share dengan tetap mencantumkan nama penulisnya. Terima kasih