Archive for the ‘CeriTa biJak’ Category

h1

MeNgasaH keMamPuan DiRi – AW

Januari 11, 2011

Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, maka calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.
Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.

 

Hari pertama bekerja, ia berhasil merobohkan delapan batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus. “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu selama ini. Teruskan bekerja seperti itu.”

Karena sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi. Tetapi dia hanya berhasil merobohkan tujuh batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tapi hasilnya tetap tidak memuaskan, bahkan mengecewakan. Semakin bertambah hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan.

“Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku. Bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon, merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap kepada sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?”

“Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu! Saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga,” kata si penebang.

“Nah, di sinilah masalahnya. Ingat hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil maksimal. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama, tetapi tidak diasah. Kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bisa bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal. Sekarang, mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukkan kepala dan mengucap terima kasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.

Pembaca yang berbahagia,

Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, dan sibuk terus, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak, “mengasah” dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan, dan spiritual.

Seperti pepatah Mandarin yang mengatakan istirahat bukan berarti berhenti, tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi. Tentunya istirahat kita seharusnya menjadi istirahat yang berkualitas dan bukan untuk bermalas-malasan. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan dinamis!

Salam sukses, luar biasa!

h1

GoLdeN woRds 49

Januari 11, 2011
Banyak orang mempunyai banyak pengetahuan tapi belum tentu ia kaya dan sukses.
Karena biasanya mereka tidak SEGERA MEMPRAKTEKKAN dan mengembangkan kecepatan belajarnya
Jangan lah berkecil hati untuk memulai sesuatu,lakukan saja ………
tidak usah khawatir mengenai kualitas yang akan Anda capai.
Karena melakukan sesuatu dengan tidak sempurna tetap lebih baik daripada tidak melakukan apapun dengan sempurna
h1

GoLden WoRds 47

Januari 11, 2011

Anda adalah kekasih Tuhan.
Dan tidak ada yang tidak akan dilakukan Tuhan untuk kekasihnya.
Maka, Inginkanlah yang besar, mintalah yang besar, pantaskanlah diri menjadi orang besar,
dan bersyukurlah sebagai orang yang besar.
Siapapun yang mengalirkan kebaikan kepada orang lain akan menerima kebaikan juga – baik dari sumber yang jelas atau dari sudut-sudut yang tidak diketahuinya.

h1

GoLden WordS 44

Januari 11, 2011

Seorang yang berhati baik, akan membaikkan tindakannya agar dia bisa meneladankan yang baik, menganjurkan yang baik, dan kemudian mengharuskan yang baik.
Maka jika kita memilih seseorang sebagai pemimpin kita, pastikanlah Anda memilih pribadi yang hatinya baik.
Tugas kita adalah menjadikan waktu antara kelahiran dan akhir kehidupan kita, sebagai keberadaan yang sejahtera, yang berbahagia, dan yang secemerlang mungkin.
Janganlah kekhawatiran kita mengenai masa depan, menjadikan kita pribadi yang sikap, pikiran, dan tindakannya justru akan mewujudkan yang kita khawatirkan.
Hari ini, bersungguh-sungguhlah untuk menghadiahkan diri Anda sebagai pengindah kehidupan dari keluarga Anda yang tercinta.

 

h1

Ga Enak

Januari 10, 2011

* sebuah catatan terima kasih

terima kasih untuk hal-hal yang ‘gak enak’, Tuhan…

karena mereka malah membuatku semakin bersyukur

atas hal kecil dan sederhana yang mungkin terlupa…

terima kasih untuk kejadian yang menyedihkan, Tuhan…

karena oleh mereka aku jadi makin dekat pada-Mu

dan mampu menghargai hal-hal yang membahagiakan…

terima kasih untuk setiap kegagalan, Tuhan…

karena dari mereka aku belajar menghargai kesuksesan

yang Kauizinkan mampir di hidupku…

terima kasih untuk setiap kehilangan, Tuhan…

karena aku semakin sadar bahwa hidup ini sementara

yang abadi hanya diri-Mu

terima kasih untuk setiap kemalangan, Tuhan…

karena dari situlah aku belajar berdiri tegar

tidak selalu mudah namun bisa terjadi dengan bimbingan-Mu.

terima kasih untuk setiap kekuatiran, Tuhan….

karena dengan demikian, aku datang dan membawa mereka pada-Mu

sambil menyerahkan kehidupanku seutuhnya ke dalam tangan-Mu

terima kasih untuk setiap kesukaran dan permasalahan, Tuhan…

karena dengan adanya mereka aku belajar berusaha

mencari solusi kreatif sekaligus berserah pada-Mu…

terima kasih untuk semua yang ‘gak enak’ itu, Tuhan…

karena hidup bukanlah melulu kemapanan ataupun kenyamanan…

namun juga proses pembelajaran…

terima kasih, Tuhan untuk itu semua…

karena kutahu, Kaubertujuan agar aku terus naik kelas

dalam sekolah kehidupan bersama-Mu.

-Fonny Jodikin-

* tautannya ada di: http://fjodikin.blogspot.com/2010/11/gak-enak.html

* copas, forward, share? Harap sertakan sumbernya. Trims.

h1

KaLa MenJenguK si SakiT

Januari 10, 2011

Oleh: Sonny Wibisono *

 

“It is health that is real wealth and not pieces of gold and silver.”– Mahatma Gandhi, politikus asal India, 1869-1948

 

BENAR juga apa yang dikatakan Kak Rhoma, ‘begadang jangan begadang, kalau tiada artinya.’ Inilah yang dialami Agus. Tubuhnya terbaring lemah. Sudah tiga hari Agus harus tidur di rumah sakit. Penyakit tipus merontokkannya. Ini adalah buah dari getolnya bekerja. Begadang bekerja membuatnya sering pulang hingga larut malam. Sebelumnya, dia bilang sudah biasa dengan ritme bekerja seperti itu. Keluarga pun tak mencemaskan. Teman kantor apalagi.

 

Tapi kekuatan tubuh manusia ada batasnya. Agus tumbang juga akhirnya. Saat diperiksa dokter, ia mengira hanya digasak gejala flu. Namun karena tak kunjung sembuh, pada kunjungan yang kedua, dokter menyarankan untuk cek darah. Nyatalah, dia terkena tipus. Tak ada pilihan yang lebih baik bagi Agus, kecuali mondok di rumah sakit.

 

Ketika menjenguknya, Agus masih dapat membersitkan senyuman. Ia tetap ceria, bahkan masih dapat bersenda gurau dengan teman-temannya yang menjenguknya. Ia sangat berterimakasih atas kedatangan teman-temannya. Hal itu katanya, memberikan kekuatan tersendiri baginya.

 

Betul. Mengunjungi orang sakit merupakan perbuatan yang sungguh sangat dianjurkan. Karena di dalamnya terdapat keutamaan yang agung. Menjenguk orang yang sedang sakit, merupakan bagian dari proses penyembuhan itu sendiri. Karena memang, pengobatan tidak seluruhnya bersifat materiil.

 

Menjenguk orang yang sakit, ternyata juga menguntungkan secara kesehatan bagi yang menjenguknya. Tak percaya? Simaklah studi berikut ini. Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Psychological Science, akhir April 2010 lalu, seseorang yang melihat orang lain sakit akan meningkatkan sistem kekebalan tubuhnya. Jadi malah makin menyehatkan si penjenguk. Namun tentu saja, kita tak hanya sekedar datang dan pergi dalam menjenguk si sakit. Walaupun tak ada larangan bagi siapa saja untuk dapat menjenguk orang sakit, tak ada salahnya bagi si penjenguk untuk memperhatikan hal-hal berikut.

 

Sebaiknya tanyakan terlebih dahulu kondisi si sakit pada keluarganya. Bagaimanapun juga, keluargalah yang lebih tahu kondisi si sakit. Hal ini juga untuk mengetahui hal-hal apa saja yang kiranya patut diketahui oleh penjenguknya nanti ketika akan menjenguk si sakit. Misalnya saja, si sakit yang mengalami kecelakaan, akan menjadi trauma ketika peristiwa kecelakan yang menimpa dirinya diungkit kembali. Saat menjenguk tak perlu membicarakan hal tersebut. Tak ada salahnya pula bila kita mengingatkan kepada keluarganya untuk sungguh-sungguh memperhatikan dan merawat si sakit.

 

Setelah datang menemui si sakit, tanyakanlah bagaimana kondisi kesehatannya. Selain mendapat informasi tambahan dan mengetahui kondisi yang sesungguhnya dari si sakit, juga dapat meringankan si sakit karena merasa ada yang memperhatikan kondisinya. Bila perlu, bawakanlah buah tangan. Tentunya, dengan memperhatikan kondisi kesehatan si sakit dan konsultasikanlah dengan sang dokter mengenai makanan yang dapat dikonsumsi si sakit.

 

Selain menanyakan kondisi kesehatannya, si sakit sebaiknya dihibur. Tak hanya dihibur, sebaiknya pula kita menceritakan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan si sakit. Jangan mengungkit-ungkit hal-hal yang tak mengenakkan si sakit. Dengan menghiburnya dan menceritakan kebaikan-kebaikannya, akan membuat si sakit merasa tenang dan dapat mempercepat proses penyembuhannya.

 

Dan tentu saja, ketika kita menjenguknya, tak lupa kita mendoakan kesembuhan bagi si sakit. Keyakinan manapun tentu mengajarkan agar kita mendoakan orang yang sedang sakit agar segera lekas sembuh dan dapat beraktifitas kembali seperti sedia kala.

 

Bagi yang menjenguknya, ada pelajaran berharga yang bisa dipetik. Hal itu mengingatkan kepada mereka bahwa begitu mahalnya apa yang dinamakan kesehatan. Kesehatan baru akan terasa tak ternilai ketika sedang jatuh sakit. Tentu saja diharapkan agar mereka, para penjenguk si sakit, tersadar dan terdorong untuk lebih memperhatikan gaya hidup dan perilaku mereka. Di kala sehat, hiduplah secara teratur dan seimbang. Seperti, makan secara teratur dan yang menyehatkan, berolahraga, menjauhi begadang dan aktivitas yang tak perlu. Dan juga yang penting, jangan tinggalkan ibadah. Jangan hanya ketika sakit, kita baru giat beribadah dan ingat akan Tuhan. Betul?

 

 

*) Sonny Wibisono, penulis buku ‘Message of Monday’, PT Elex Media Komputindo,  2009

 

NB: Silakan share dengan tetap menyertakan nama penulisnya. Terima kasih

h1

KaRtu KreDiT

Januari 10, 2011

Manusia terlalu percaya akan dirinya bahwa dia akan dapat rasional dalam mengambil keputusan. Padahal kenyataannya tidak. Sebagai contoh, sering saya melihat teman yang pemakaian kartu kreditnya berlebihan. Kalau ditanya, mereka sudah mengontrolnya dan merasa memakai sedikit saja. Padahal kenyataannya tagihannya jauh melebihi dari dugaannya.

 

Mengapa ? Karena menggunakan kartu kredit tidak terasa beda membayar 70.000 atau 700.000 atau 2.700.000. Rasanya sama. Tinggal tanda tangan saja. Makan 40.000 tanda tangan, selesai. Beli barang 3.000.000 tanda tangan, selesai juga. Rasa meneken tanda tangan ini sama. Semua pakai kertas kecil yang tidak ada bedanya antara 70.000 atau 700.000.

 

Anda tidak merasa berat untuk mengeluarkan uang. Bandingkan kalau anda membayar dengan uang seperti biasanya. Beli 40.000 anda akan mengeluarkan 4 lembar 10.000-an. Bahkan kalau membayar 2.000.000, harus 2 tumpuk uang sejutaan. Ini akan terasa beda bayarnya karena kelihatan banyaknya lembar uang yang dikeluarkan.

 

Manusia terlalu mempercayai otak kanannya. “Oh ya, saya ingat kok. Kemarin belanja ini 1 juta. Lalu yang itu 1 juta,” kata dia. Tapi dia tidak merasa lagi berapa total keseluruhannya. Karena itu kalau anda lihat kenapa semua bank mengobral kartu kredit dan pemakaiannya. Anda saksikan iklan-iklan yang berisi pembelian dengan bunga 0%, diskon ini-itu atau buy 1 get 2 dan sebagainya. Juga ada iming-iming gratis iuran tahunan pertama, padahal orang lupa memperhatikan masa kartu kreditnya. Ingatnya ketika sudah ditagih. Maka mereka menunggu setahun lagi untuk membatalkannya. Tahun depannya juga ingat setelah telat sebulan dan diteruskan sampai terus-menerus. Sehingga banyak orang punya 5 kartu kredit serta selalu lupa membatalkan ketika tagihan iuran tahunannya sudah berjalan. Para bank yang mengeluarkan kartu kredit ini tahu bahwa anda sering lupa. Manusia terlalu percaya akan ingatannya.

 

Contoh lain, keanggotan fitness centre sebuah hotel berbintang untuk berolah raga. 1 tahun bayar 3 juta atau bulanan bayar 250 ribu. Kalau kasus seperti ini, sebaiknya anda bayar bulanan, meski harus 300 ribu sekalipun. Mengapa ? Kalau bayar sebulan sekali, anda menjadi sadar telah membayar sehingga harus berolah raga. Tapi kalau bayar tahunan, anda baru ingat ketika baru membayar atau adanya tagihan tahun depan. Sehingga di tengah-tengah tahun, anda tidak memanfaatkan fasilitas ini untuk berolah raga.

 

‘Power of context’, atau “kekuatan keadaan”, membuat kita tidak logis dan rasional, karena kita terpengaruh oleh keadaan sekeliling kita dalam mengambil keputusan . Dunia bisnis sering memanfaatkan ini untuk membuat anda lebih banyak membeli barang, andapun harus lebih jernih melihat ini dan mengantisipasi keadaan.

 

 

* Tanadi Santoso

 

 

NB: Silakan share dengan tetap mencantumkan nama penulisnya. Terima kasih

h1

Pahlawan Sejati Dalam Kehidupan

Januari 10, 2011

Masih ingatkah saat kita kecil …

Kita pasti punya tokoh super hero idaman kita.

Seorang jagoan yg digambarkan sebagai sangat hebat dan tak terkalahkan.

Saking mengidolakannya,

Mungkin sampai membuat kita merasa bisa seperti itu sesaat setelah kita melihatnya.

 

Sekarang saat dewasa kita tahu,

Bahwa itu semua hanyalah rekaan saja,

Tidak ada super hero seperti idola kita waktu kita kecil di jaman semodern ini.

Tapi pada hakekatnya,

Ada sebuah mindset dalam diri kita yang mengajarkan pada kita, bahkan sejak kita masih kecil

Bahwa kita ini sebenarnya ingin menjadi seorang pahlawan dalam kehidupan.

Seseorang yang berguna bagi orang lain, suka menolong dan sangat dibanggakan.

 

Namun seiring dengan perjalanan waktu,

Kita menghabiskan banyak waktu untuk mencari jati diri kita yang sesungguhnya

Pergaulan2 di masa2 sekolah mulai membentuk pola pikir kita.

Kita mulai mendeskripsikan kepahlawanan di masa kecil kita dengan cara yang keliru.

Alih2 menolong orang lain, menolong diri kita sendiri saja kita tak sanggup.

Terlalu banyak pemikiran2 yang keliru yang mulai berkembang di pergaulan remaja kita.

Apalagi mereka yang bertumbuh di jaman keterbukaan yang memang serba terbuka sekarang ini.

Mudah sekali mendemonstrasikan dan mengeksploitasi keberadaan diri kita di masa kini.

Entah efeknya baik atau buruk bagi orang lain, namun kehidupan sdg mengajarkan kita utk menjadi egois.

Bahkan sangat egois.

Waspadalah!!!

 

 

Lalu saya kembali teringat masa kecil saya …

Ada seorang manusia super yang rendah hati

Kesukaannya adalah menolong orang lain

Kegemarannya adalah membela kebenaran

Kerinduannya adalah menyelamatkan bumi

Namun dia tak ingin orang lain mengerti siapakah dirinya sesungguhnya.

 

Sobat setia,

Sadarkah kita bahwa setiap orang terlahir menjadi seorang pahlawan?

Satu buah sel sperma yg mengalahkan jutaaan sel yg lain untuk membuahi satu telur

Telah menjelma menjadi diri kita!

Lihatlah betapa ajaibnya Tuhan kita,

Kita ditakdirkan untuk menjadi seorang pemenang bahkan sebelum kita dibentuk.

Yang pada akhirnya,

Kita juga ditakdirkan untuk menjadi pahlawan2 sejati bagi kehidupan.

 

Ingatlah sobat,

Kita adalah pemenang!

Kekalahan hanya berlaku bagi mereka yg tidak ingin mengerti bagaimana caranya utk menang.

Namun jelas itu bukan kita.

Karena kita adalah pejuang2 tangguh yg tidak berhenti berjuang.

Sebab di dalam diri kita, mengalir darah seorang pemenang.

 

Lakukan yang terbaik dengan segenap iman kita pada Tuhan,

Sebab kita hidup di dalam rancangan damai sejahteraNya,

Dan kita berjalan di dalam rencana2 indahNya bagi kita.

Tanpa rasa kuatir, tanpa rasa takut … namun penuh belas kasihan

Sebab kita adalah … PAHLAWAN SEJATI dalam kehidupan! ^^

 

 

Salam sejahtera,

 

[Tomy Diamond]

 

 

*NB: Silakan yg mau share, harap selalu sertakan sumber dan nama penulisnya yaa. Thanks, GBU.

h1

Semangat hidup tak boleh padam!!

Januari 10, 2011

Di sebuah kota kecil di kalimantan, tinggallah seorang anak perempuan yang bernama Fransiska. Dia gemar dengan dunia seni, di setiap pertandingan dia tidak pernah menjadi yang terbaik. Akan tetapi ibunya selalu hadir di setiap perlombaan itu untuk memberikan semangat terhadap dirinya. Kehidupan Kristina, ibunya Fransiska, sangatlah tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih hatinya setelah mereka selesai sekolah.

 

Kehidupan mereka sangat bahagia dengan anaknya dan seperti cerita di dalam buku-buku roman.Namun ,keadaan itu tidak berlangsung lama sampai usia Fransiska 11th.Suami Kristina meninggal karena terjadinya kecelakaan yg tragis. 

” Aku tidak akan menikah lagi”, kata Kristina kepada anaknya.” Tidak ada yang dapat mencintaiku seperti Dia”. “Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu orang saja yang sangat istimewa bagi dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk selama-lamanya. Namun jika salah satu dari mereka pergi, akan lebih baik bagi yang ditinggalkan untuk tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari penggantinya.” 

Kristina sangat bersyukur bahwa dia tidak sendirian masih ada anaknya yang sangat mencitai dia. Dan selalu memberikan dukungan kepada anaknya sehingga anaknya selalu bersikap optimis. setelah Fransiska kehilangan sesosok seorang ayah, ibunya selalu mejadi ayah bagi Fransiska. 

Pertandingan demi pertandingan, Kristina selalu datang memberikan dukungan kepada anaknya agar Fransiska semangat dalam setiap perlombaan. Suatu hari Fransiska datang keperlombaan seorang diri tanpa di temani ibunya . “Dia berkata kepada juri pertandingan itu ” : “Bisakah aku tampil yang pertama dalam pertandingan ini sekarang? Ini sangat penting bagiku. Aku mohon ?” Dengan pertimbangan para juri tersebut mempersilahkan Fransiska untuk tampil yang pertama di ajang perlombaan itu. walaupun dengan suara yang tidak bagus. para juri gakum dengan kegigihan dan sportivitas Fransiska tersebut, dan Fransiska berlatih extra keras dalam beberapa hari ini. Hati Fransiska bergetar saat tampil dan Ia pun berhasil memenangkan perlombaab itu. 

Tentu saja para juri sangat kagum melihatnya. Mereka belum pernah melihat Fransiska bernyanyi sebaik itu. Setelah perlombaan , juri tersebut menarik Fransika ke pinggir. “Pertandingan yang sangat mengagumkan,” katanya kepada Luke. “Aku tidak pernah melihatmu bernyanyi sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang membuatmu jadi begini?” 

Fransiska tersenyum dan juri itu melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh air mata kebahagiaan. Fransiska menangis tersedu-sedu. Sambil sesunggukan, ia berkata “Pak, ayahku sudah lama sekali meninggal dalam sebuah kecelakaan . Ibuku sangat sedih. Minggu lalu,…… Ibuku meninggal.” Fransika kembali menangis. 

Kemudian Fransiska menghapus air matanya, dan melanjutkan ceritanya dengan terbata-bata. “Hari ini,…….hari ini adalah pertama kalinya kedua orangtuaku dari surga datang pada perlombaan ini untuk bersama-sama melihatku bernyanyi. Dan aku tentu saja tidak akan mengecewakan mereka…….”. Fransiska kembali menangis terisak-isak. 

Sang juri sadar bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat, dengan mengizinkan Fransiska tampil sebagai peserta yang utama hari ini. Sang juri yang berkepribadian sekuat baja, tertegun beberapa saat. Ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk menenangkan Fransiska yang masih menangis. Tiba-tiba, baja itu meleleh. Sang juri tidak mampu menahan perasaannya sendiri, air mata mengalir dari kedua matanya, bukan sebagai seorang juri, tetapi sebagai seorang anak….. Sang juri sangat tergugah dengan cerita Fransiska, ia sadar bahwa dalam hal ini, ia belajar banyak dari Fransiska. 

Bahkan seorang anak berusia 11 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan orang tuanya, walaupun ayah dan ibunya sudah pergi selamanya………… Fransiska baru saja kehilangan seorang Ibu yang begitu mencintainya…….. 

Sang juri sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya masih ada. Mulai saat itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya, membahagiakan mereka, membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk mereka. Dia menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal seumur hidupnya……………

 

Kiriman dari Fransiska Vini (from discussion board)

h1

BoLu KuKus

Januari 10, 2011

Bolu Kukus

*Arti Sebuah Perjuangan dan Kasih Mama bagiku…

 

Jakarta, September 2010

Ketika tak berselera untuk makan saat awal kehamilan, aku sukanya hanya ‘ngemil’ saja. Mulai dari tahu goreng, tempe goreng, risol,  kroket, bakwan jagung, dan sebagainya. Bersyukur, aku berada di Jakarta. Kalau di Vietnam, yang pasti cemilan itu akan lebih sulit didapati yang cocok dengan selera.

 

Di antara semuanya itu, seorang tetangga yang baik hati memberikan dua buah bolu kukus. Warna krem mendominasi, dengan warna cokelat tua di pinggirannya menandakan dia rasa cokelat. Kubuka kertas ‘cup cake’ yang menjadi dasar Si Bolu, lalu mulai memakannya. Rasanya enak. Halus dan empuk. Dia memang tidaklah secantik ‘cup cake’ yang tengah menjamur saat ini. Namun, di hatiku, dia tetap memegang suatu kenangan khusus yang tak tergantikan. Seketika, kenangan akan bolu kukus membawaku ke masa-masa itu…

 

Palembang, kenangan masa SMP, hampir 20 tahun lalu…

Papaku sakit.

Dengan segala komplikasi penyakitnya membuat Papa tak mampu lagi mempertahankan bisnis yang sudah ditekuninya lebih dari dua puluh tahun lamanya. Ekonomi keluarga sempat morat-marit, tetapi Mamaku tetap tegar. Kami lima bersaudara, aku anak ke-4.

 

Di saat itulah, Mama mulai mencoba membuat kue dan lemper, serta mulai menitipkannya pada beberapa toko di pasar, maupun bakery dekat rumah. Perlahan, dia mulai berlatih membuat bolu kukus. Tidak sempurna pada awalnya, beberapa tidak mengembang bahkan berbentuk topi (tetapi terkadang menjadi kesenanganku tersendiri karena aku bisa dibagi dan makan bolu itu:)).  Lalu perlahan Mama semakin mahir dan usaha berjualan kue semakin dikenal orang. Setidaknya, dapur keluarga masih mengebul dan kami masih bisa bersekolah.

 

Tahun demi tahun berlalu, sampai akhirnya aku masuk SMU, Universitas dan bekerja. Harus kuakui, hari-hari perjuangan Mama memenuhi kebutuhan kami dipenuhi dengan pertemanannya dengan gula, telur, terigu, soda, dan semua komponen bahan yang menjadikan bolu kukus tercipta.

 

Setidaknya, bolu kukus punya andil yang cukup besar pula bagi apa yang sudah kami raih hari ini. Di situlah kulihat ketegaran dan kekuatan seorang Mama yang puji Tuhan dipilihkan-Nya bagiku. Untuk menjadi contoh bahwa hidup terkadang berat dan tak pernah bisa ditebak ke mana arahnya. Tetapi penting bagi kami untuk tidak menyerah ataupun mengaku kalah. Karena hidup adalah perjuangan untuk tetap tegar, di antara semua permasalahan ataupun lika-likunya yang tak pernah kuketahui bagaimana kompleksnya…

Terima kasih, Tuhan buat Mama. Buat bolu kukus. Dan buat kebersamaan di tengah badai dan pelajaran ketegaran di dalamnya…

 

Jakarta, September 2010

Kupandangi lagi kertas bolu kukus yang tersisa… Bolunya sudah habis.

Namun, tak segera kubuang kertasnya…

 

Kenangan atasnya membawaku kembali ke masa-masa penuh perjuangan sekaligus pembelajaran terbesar dalam hidupku. Bahwa hidup bisa berubah drastis, bisa membawaku ke perjalanan yang suram dan mungkin tak menyenangkan…

Tetapi, Mama mengajarkanku untuk tegar dan berjuang. Tidak menyerah kalah. Tidak pula melakukan yang buruk, terlarang, atau suatu kejahatan untuk mendapatkan uang…

Bekerja keras, jujur, berikan yang terbaik… Tuhan punya mata, Dia takkan tinggal diam melihat orang-orang yang berjuang keras untuk hidup sembari terus berdoa dan berserah kepada-Nya….

 

Kubuang bungkus plastik dan kertas bolu kukus itu… Namun kenangan dan pembelajaran di dalamnya takkan terhenti sampai di situ, bahkan akan tetap terpatri dalam relung terdalam di hatiku. Selamanya.

 

 

Ho Chi Minh City, 9 Desember 2010

-fon-

*Mataku basah saat menuliskan hal ini. Rasa haru, sekaligus syukur meliputiku. Karena kebaikan-Nya aku bisa hidup dan mengecap banyak kebaikan sampai hari ini. Salah satu yang terbaik adalah keluargaku: Mama, Papa, dan seluruh kakak-adikku… Thank God!

* copas, forward, share? Harap sertakan sumbernya…

* tautannya ada di: http://fjodikin.blogspot.com/2010/12/bolu-kukus.html