h1

RuIn is A giFt

Januari 6, 2011

Ruin is a gift. Ruin is the road to transformation.

(Eat Pray Love – Julia Roberts as Liz Gilbert)

Saya sempat tercenung sejenak ketika mendengar perkataan Julia Roberts di Film Eat Pray Love tersebut. Terjemahan bebasnya mungkin sebagai berikut:

Kejatuhan/ keruntuhan adalah suatu anugerah. Keruntuhan adalah jalan menuju transformasi/perubahan.

Benarkah demikian? Saat kejatuhan tiba, kita melihatnya sebagai berkat yang terselubung dalam bungkusan anugerah? Atau malah sebaliknya? Kita melihatnya sebagai malapetaka tanpa akhir yang menghancur-leburkan kehidupan kita? Sekali lagi, penting bagi kita untuk memilih perspektif yang mana ketika berhadapan dengan kegagalan, kejatuhan, ataupun keruntuhan. Akan ke mana kita bawa puing-puing reruntuhan kehidupan kita tersebut, memang agaknya merupakan pilihan kita.

Anggaplah kita adalah orang-orang positif, sebagaimana layaknya Liz (Elizabeth) Gilbert- Sang Penulis yang mampu melihatnya sebagai berkat. Tentunya, dari kejatuhan kita belajar untuk bangkit kembali. Menganalisa setiap kesalahan yang terjadi dan mencoba meminimasinya untuk kemudian tidak mengulanginya lagi di kemudian hari. Tidak tertutup kemungkinan walaupun mencoba melihatnya secara positif, tetap saja perasaan hancur-kecewa- putus asa itu pernah singgah. Lagi-lagi, orang-orang positif- para pemenang kehidupan itu memilih untuk tidak menyerah kalah terhadap perasaan yang timbul ataupun kenyataan yang ada. Malahan mereka berjuang lagi, mencoba memunguti sebagian puing terpenting yang tersisa untuk kemudian bangkit lagi sebagai manusia baru.

Pernah juga kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, keruntuhan itu malah menjadikan orang yang bersangkutan terpuruk. Malah cenderung menyesali hidup. Tak jarang, kejatuhan itu membawa orang-orang ke arah putus asa untuk kemudian memilih jalan pintas seperti bunuh diri. Tentunya, bukan hal yang terpuji dan tidak didukung oleh ajaran agama mana pun… Tetapi, seolah kejatuhan itu adalah akhir segalanya bagi dirinya dan memilih untuk mengakhiri dengan caranya. Sayang sekali sebetulnya… Kalau saja dia bertahan satu, dua hari lagi… Kalau saja dia bertahan satu, dua, tiga tahun lagi…Keadaan pasti berubah, asalkan ada usaha juga dari diri sendiri untuk menggapai perubahan itu pula.

Kita pun pernah menyaksikan saat orang-orang yang terpuruk dan merasa kalah itu memenuhi dirinya dengan amarah karena terluka. Dendam, lalu melakukan tindakan kejahatan. Tentunya, amatlah disayangkan perbuatan-perbuatan semacam ini. Walaupun kita sadari, adalah sulit juga untuk tetap berpikir jernih, ketika kepala terlalu ditimbuni masalah. Kalau saja mereka masih punya harapan, kalau saja mereka punya iman… Percaya bahwa masih ada kebaikan di tengah seluruh reruntuhan, mungkin keadaan tidak jadi begini…

Di saat-saat seperti ini, sebagaimana yang dialami Liz, dia mencoba mencarinya melalui makanan di Italia. Untuk menemukan kembali cita rasa sedapnya makanan yang sempat dikecapnya, lalu hilang meluap begitu saja. Lalu, dia pun mencarinya lewat doa. Hubungan yang lebih dekat dengan Sang Pencipta. Adalah hal yang wajar ketika berbeban berat, seseorang akan lari menuju penciptanya. Tetapi, tentu saja kita mengharapkan bahwa kita ingat Tuhan bukan melulu di saat hancur, namun juga di saat senang. Walaupun harus diakui, di saat-saat hati jadi berkeping-keping itulah, hubungan yang amat dekat bisa dirasakan oleh orang yang sungguh-sungguh menyadari keterbatasannya walaupun sudah melakukan yang maksimal. Dan sadar bahwa tanpa Tuhan, dia bukan siapa-siapa.

Ruin is a gift. Ruin is the road to transformation.

Inilah sikap yang kita harapkan dalam menghadapi kehidupan ini. Dalam kaca mata iman, kita bisa berkata: kehancuran adalah anugerah. Ini adalah saatnya untuk perubahan. Dan kita percaya, apa pun yang terjadi dalam hidup ini, Tuhan tak pernah lepas tangan. Dia punya rencana yang indah buat kita. Hancur di mata kita, belum tentu sebetulnya hancur secara keseluruhan. Tak jarang, kehancuran itu malahan membuahkan kebaikan dalam kehidupan kita di masa yang akan datang.

Apa pun yang terjadi, kita percaya bahwa Tuhan selalu serta kita. Itu yang terpenting. Persembahkan semua suka-duka kehidupan kita kepada-Nya tanpa menjadi terlalu berputus asa, karena kita punya iman…Kita punya Tuhan.

Ho Chi Minh City, 5 Januari 2011

-fon-

* copas, forward, share? Harap sertakan sumbernya. Trims.

* tautannya ada di: http://fjodikin.blogspot.com/2011/01/ruin-is-gift.html

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: