Archive for Januari 4th, 2011

h1

CeriTa seOraNg aHLi FiLsaFaT

Januari 4, 2011
Oleh :  海宽 (Haikuan)
Penampilannya sangat anggun dan terpelajar, berpakaian necis, membuat banyak wanita mabuk kepayang. Pada suatu hari, ada seorang wanita cantik mengetok pintu rumahnya, wanita itu berkata, “jadikan saya sebagai istri kamu, jangan sampai salah, kamu akan kehilangan kesempatan mencintai seorang wanita yang sangat mencintai kamu.”
Ahli filsafat itu sangat tersentuh hatinya tapi ia tetap berkata, “beri aku waktu untuk berpikir.” Ahli filsafat itu menggunakan suatu ilmu analis memecahkan suatu masalah, ia analisa dengan cermat, kalau kawin untungnya bagaimana? kalau tidak kawin baiknya dimana? akhirnya ia mendapat kenyataan baik buruknya seimbang, maka ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat, maka ia terjerumus dalam masa bimbang yang panjang.
Meskipun ia menggunakan rumus yang lebih canggih, ia tetap menghadapi kesulitan untuk memilih salah satu diantaranya, akhirnya ia mendapat suatu kesimpulan, manusia kalau menghadapi pilihan yang sulit, ia harus memilih sesuatu yang belum pernah terjadi atau dialami oleh dirinya.
Kalau tidak kawin saya kan sudah mengalami, kalau kawin bagaimana? saya kan belum pernah merasakan, makanya kawin saja, saya harus meluluskan permintaan dari wanita itu,m aka ahli filsafat datang ke rumah Si wanita cantik itu, ia berkata kepada orang tua gadis itu, “anakmu dimana?”
Tolong sampaikan kepadanya, saya sudah memikirkan matang sekali, saya berjanji akan mengawininya, orang tua dari si gadis itu menjawab dengan enteng, “kamu telah terlambat datang sepuluh tahun, anak saya sekarang sudah mempunyai 3 anak yang lucu-lucu dan cantik, mendengar ini semua ahli filsafat terhentak duduk kembali dalam kursi, semangatnya seperti terbang di awang-awang.
Dia merasa dirinya sangat pintar tapi yang didapatnya adalah sebuah penyesalan.
Setelah itu ahli filsafat strees dan terjangkit penyakit, mendekati ajalnya ia meninggalkan sebuah penilaian terhadap kehidupan manusia, kalau kehidupan bisa dibagi dalam dua bagian, filosofi bagian atas kehidupan manusia adalah jangan ragu-ragu dan falsafah bagian bawah kehidupan manusia adalah tidak menyesal.
h1

AnTaRa buRung, CaciNg & ManuSia

Januari 4, 2011

Bila kita sedang mengalami kesulitan hidup karena himpitan kebutuhan materi, maka cobalah kita ingat pada burung dan cacing.
Kita lihat burung tiap pagi keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Tidak terbayang sebelumnya kemana dan dimana ia harus mencari makanan yang diperlukan.

Karena itu kadangkala sore hari ia pulang dengan perut kenyang dan bisa membawa makanan buat keluarganya, tapi kadang makanan itu cuma cukup buat keluarganya, sementara ia harus “puasa”.

Bahkan seringkali ia pulang tanpa membawa apa-apa buat keluarganya sehingga ia dan keluarganya harus “berpuasa”. Meskipun burung lebih sering mengalami kekurangan makanan karena tidak punya “kantor” yang tetap, apalagi setelah lahannya banyak yang diserobot manusia, namun yang jelas kita tidak pernah melihat ada burung yang berusaha untuk bunuh diri.

Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menukik membenturkan kepalanya ke batu cadas. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menenggelamkan diri ke sungai. Kita tidak pernah melihat ada burung yang memilih meminum racun untuk mengakhiri penderitaannya. Kita lihat burung tetap optimis akan rizki yang dijanjikan Allah.

Kita lihat, walaupun kelaparan, tiap pagi ia tetap berkicau dengan merdunya. Tampaknya burung menyadari benar bahwa demikianlah hidup, suatu waktu berada diatas dan dilain waktu terhempas ke bawah.

Suatu waktu kelebihan dan di lain waktu kekurangan. Suatu waktu kekenyangan dan dilain waktu kelaparan.
Sekarang marilah kita lihat hewan yang lebih lemah dari burung, yaitu cacing.

Kalau kita perhatikan, binatang ini seolah-olah tidak mempunyai sarana yang layak untuk survive atau bertahan hidup. Ia tidak mempunyai kaki, tangan, tanduk atau bahkan mungkin ia juga tidak mempunyai mata dan telinga. Tetapi ia adalah makhluk hidup juga dan, sama dengan makhluk hidup lainnya, ia mempunyai perut yang apabila tidak diisi maka ia akan mati. Tapi kita lihat, dengan segala keterbatasannya, cacing tidak pernah putus asa dan frustasi untuk mencari rizki. Tidak pernah kita menyaksikan cacing yang membentur-benturkan kepalanya ke batu.

Sekarang kita lihat manusia. Kalau kita bandingkan dengan burung atau cacing, maka sarana yang dimiliki manusia untuk mencari nafkah jauh lebih canggih.

Tetapi kenapa manusia yang dibekali banyak kelebihan ini seringkali kalah dari burung atau cacing?

Mengapa manusia banyak yang putus asa lalu bunuh diri menghadapi kesulitan yang dihadapi?

Padahal rasa-rasanya belum pernah kita lihat cacing yang berusaha bunuh diri karena putus asa.

 

Rupa-rupanya kita perlu banyak belajar dari burung dan cacing.

 

h1

PerKataaN Ibu ThereSa

Januari 4, 2011

Inilah perkataan yang diucapkan ibu Teresa sebelum kematiannya :

“Kalau saya memungut seseorang yang lapar dari jalan, saya beri dia sepiring nasi, sepotong roti. Tetapi seseorang yang hatinya tertutup, yang merasa tidak dibutuhkan, tidak dikasihi, dalam ketakutan, seseorang yang telah dibuang dari masyarakat – kemiskinan spiritual seperti itu jauh lebih sulit untuk diatasi.”

Mereka yang miskin secara materi bisa menjadi orang yang indah.

Pada suatu petang kami pergi keluar, dan memungut empat orang dari jalan. Dan salah satu dari mereka ada dalam kondisi yang sangat buruk.

Saya memberitahu para suster : “Kalian merawat yang tiga; saya akan merawat orang itu yang kelihatan paling buruk.”

Maka saya melakukan untuk dia segala sesuatu yang dapat dilakukan, dengan kasih tentunya. Saya taruh dia di tempat tidur dan ia memegang tangan saya sementara ia hanya mengatakan satu kata : ” Terima kasih ” lalu ia meninggal.

Saya tidak bisa tidak harus memeriksa hati nurani saya sendiri. Dan saya bertanya : ” Apa yang akan saya katakan, seandainya saya menjadi dia ?” dan jawaban saya sederhana sekali. Saya mungkin berusaha mencari sedikit perhatian untuk diriku sendiri.

Mungkin saya berkata : ” Saya lapar, saya hampir mati, saya kedinginan, saya kesakitan, atau lainnya”. Tetapi ia memberi saya jauh lebih banyak ia memberi saya ucapan syukur atas dasar kasih. Dan ia mati dengan senyum di wajahnya.

Lalu ada seorang laki-laki yang kami pungut dari selokan, sebagian badannya sudah dimakan ulat, dan setelah kami bawa dia ke rumah perawatan ia hanya berkata : “Saya telah hidup seperti hewan di jalan, tetapi saya akan mati seperti malaikat, dikasihi dan dipedulikan.”

Lalu, setelah kami selesai membuang semua ulat dari tubuhnya, yang ia katakan dengan senyum ialah : “Ibu, saya akan pulang kepada Tuhan” – lalu ia mati.

Begitu indah melihat orang yang dengan jiwa besar tidak mempersalahkan siapapun, tidak membandingkan dirinya dengan orang lain. Seperti malaikat, inilah jiwa yang besar dari orang-orang yang kaya secara rohani sedangkan miskin secara materi.

* Hidup adalah kesempatan, gunakan itu.
* Hidup adalah keindahan, kagumi itu.
* Hidup adalah mimpi, wujudkan itu.
* Hidup adalah tantangan, hadapi itu.
* Hidup adalah kewajiban, penuhi itu.
* Hidup adalah pertandingan, jalani itu.
* Hidup adalah mahal, jaga itu.
* Hidup adalah kekayaan, simpan itu.
* Hidup adalah kasih, nikmati itu.
* Hidup adalah janji, genapi itu.
* Hidup adalah kesusahan, atasi itu.
* Hidup adalah nyanyian, nyanyikan itu.
* Hidup adalah perjuangan, terima itu.
* Hidup adalah tragedi, hadapi itu.
* Hidup adalah petualangan, lewati itu.
* Hidup adalah keberuntungan, laksanakan itu.
* Hidup adalah terlalu berharga, jangan rusakkan itu.

Hidup adalah hidup, berjuanglah untuk itu.

h1

PoLa CinTa

Januari 4, 2011

Setiap tahun di hari Natal, Service Club kami mengajak anak-anak dari keluarga yang kurang mampu di kota kami untuk berjalan-jalan dan berbelanja seharian.

Pada hari itu, aku mengajak Timmy dan Billy yang ayahnya baru saja berhenti bekerja. Setelah memberi mereka uang saku masing-masing $4.00, kami memulai perjalanan ini.

Di setiap toko yang kami lalui, aku memberikan saranku, tapi mereka selalu dengan tegas menggelengkan kepalanya, “Tidak”.
Akhirnya aku bertanya, “Kemana sebaiknya kita pergi?”

“Mari kita pergi ke toko sepatu, Pak”, jawab Timmy. “Kami mencari sepasang sepatu untuk ayah, supaya dia dapat kembali bekerja”.
Di toko sepatu, pegawainya menanyakan apa yang anak-anak itu inginkan.

Sambil mengeluarkan secarik kertas coklat, mereka berkata, “Kami menginginkan sepatu kerja yang cocok ukurannya dengan kaki ini”.
Billy menjelaskan bahwa itu adalah pola kaki ayah mereka. Mereka menggambarnya kala ayah mereka tertidur di kursi.

Pegawai toko itu memegang kertas tersebut dan mengambil pengukur, seraya beranjak ke dalam. Tak lama kemudian ia kembali dengan sebuah kotak terbuka.
“Apakah yang ini cocok?” dia bertanya.
Timmy dan Billy memegang sepatu itu dengan antusias sekali.
“Berapa harganya?” tanya Billy.
Timmy melihat label harga pada kotak tersebut.

“Harganya $16.95″, katanya dengan terkejut. “Kita hanya punya $8.00″.

Aku memandang pegawai itu dan sambil berdehem dia berkata, “Itu harga normal, tapi khusus hari ini saja sedang ada obral. Harganya hanya $3.98″

Kemudian dengan gembira membawa sepatu di tangan, kedua bocah itu membelikan hadiah untuk ibu dan kedua saudara perempuan mereka. Mereka tidak memikirkan sama sekali keinginan mereka.

Sehari setelah Natal, ayah kedua anak laki-laki itu menemuiku di jalan. Kakinya mengenakan sepatu baru. Tampak rasa syukur dan terimakasih di matanya.

“Saya sangat berterima kasih pada Tuhan untuk orang-orang yang peduli”, katanya.

“Dan saya berterima kasih pada Tuhan untuk kedua putra anda,” jawabku. “Mereka telah mengajariku lebih banyak tentang Natal dalam satu hari dibanding yang telah aku pelajari sepanjang hidupku.”

h1

BaTu BesaR

Januari 4, 2011

Suatu hari seorang dosen sedang memberi kuliah tentang manajemen waktu pada para mahasiswa MBA.
Dengan penuh semangat ia berdiri depan kelas dan berkata, “Okay, sekarang waktunya untuk quiz.”
Kemudian ia mengeluarkan sebuah ember kosong dan meletakkannya di meja. Kemudian ia mengisi ember tersebut dengan batu sebesar sekepalan tangan. Ia mengisi terus hingga tidak ada lagi batu yang cukup untuk dimasukkan ke dalam ember.
Ia bertanya pada kelas, “Menurut kalian, apakah ember ini telah penuh?”
Semua mahasiswa serentak berkata, “Ya!”
Dosen bertanya kembali, “Sungguhkah demikian?”

Kemudian, dari dalam meja ia mengeluarkan sekantung kerikil kecil. Ia menuangkan kerikil-kerikil itu ke dalam ember lalu mengocok-ngocok ember itu sehingga kerikil-kerikil itu turun ke bawah mengisi celah-celah kosong di antara batu-batu.
Kemudian, sekali lagi ia bertanya pada kelas, “Nah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?”
Kali ini para mahasiswa terdiam. Seseorang menjawab, “Mungkin tidak.”
“Bagus sekali,” sahut dosen.

Kemudian ia mengeluarkan sekantung pasir dan menuangkannya ke dalam ember. Pasir itu berjatuhan mengisi celah-celah kosong antara batu dan kerikil.
Sekali lagi, ia bertanya pada kelas, “Baiklah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?”
“Belum!” sahut seluruh kelas.
Sekali lagi ia berkata, “Bagus. Bagus sekali.”
Kemudian ia meraih sebotol air dan mulai menuangkan airnya ke dalam ember sampai ke bibir ember.

Lalu ia menoleh ke kelas dan bertanya, “Tahukah kalian apa maksud illustrasi ini?”
Seorang mahasiswa dengan semangat mengacungkan jari dan berkata, “Maksudnya adalah, tak peduli seberapa padat jadwal kita, bila kita mau berusaha sekuat tenaga maka pasti kita bisa mengerjakannya.”

“Oh, bukan,” sahut dosen, “Bukan itu maksudnya. Kenyataan dari illustrasi mengajarkan pada kita bahwa:

Bila anda tidak memasukkan batu besar terlebih dahulu, maka anda tidak akan bisa memasukkan semuanya.”

Apa yang dimaksud dengan “batu besar” dalam hidup anda?

  • Anak-anak anda
  • Pasangan anda
  • Pendidikan anda
  • Hal-hal yang penting dalam hidup anda
  • Mengajarkan sesuatu pada orang lain
  • Melakukan pekerjaan yang kau cintai
  • Waktu untuk diri sendiri
  • Kesehatan anda
  • Teman anda

Ingatlah untuk selalu memasukkan “Batu Besar” pertama kali atau anda akan kehilangan semuanya.

Bila anda mengisinya dengan hal-hal kecil terlebih dahulu, maka hidup anda akan penuh dengan hal-hal kecil yang merisaukan dan ini semestinya tidak perlu. Karena dengan demikian anda tidak akan pernah memiliki waktu yang sesungguhnya anda perlukan untuk hal-hal besar dan penting.

Oleh karena itu, tanyalah pada diri anda sendiri:

“Apakah ‘Batu Besar’ dalam hidup saya?”

 

Lalu kerjakan itu pertama kali.
NIAT BAIK JANGAN DITUNDA.

h1

FiLsaFat BoLak BaLik

Januari 4, 2011

Masih muda, korbankan kesehatan cari harta.
Sudah tua, korbankan harta cari kesehatan

Karena harta, orang asing menjadi seperti saudara.
Karena harta, saudara menjadi seperti orang asing.

Orang kaya mampu beli ranjang enak,
tapi gak bisa tidur enak (stress…,takut kalah kaya sama yg lain)
Orang miskin gak mampu beli ranjang enak,
tapi bisa tidur enak (kecapekan kerja…,nggak punya waktu mikir yg aneh2)

Orang kaya punya duit buat foya-foya,
tapi gak punya waktu.
Orang miskin punya waktu buat foya-foya,
tapi gak punya duit.

Masih muda, pengen jadi kaya biar nikmatin kekayaan,
Udah kaya, gak punya waktu buat nikmatin kekayaan.
Sekali punya waktu buat nikmatin kekayaan,
udah keburu tua gak ada tenaga…

Bersyukurlah dan nikmati apa yang sudah kita dapat !!

h1

EnGGan

Januari 4, 2011

Banyak yg ingin SEKUAT baja,
tapi enggan DITEMPA,

Banyak yg ingin SEHARUM dupa,
tapi enggan DIBAKAR,

Banyak yg ingin SECEMERLANG emas,
tapi enggan DILEBUR,

Banyak yg ingin raih KEMENANGAN,
tapi enggan terima TANTANGAN,

Banyak yg ingin BERGUNA bg dunia,
tapi enggan BERBAGI,

Banyak yg ingin MENGASIHI,
tapi enggan MEMAAFKAN

 

http://pengharapan.com/enggan.html#more-912